A. Nama Lengkap dan Silsilah Keluarga

Salah seorang ulama besar dari Bireuen yang begitu besar jasanya dalam pengembangan ilmu pengetahuan adalah bin Abbas atau yang dipanggil Tgk. Abi. Beliau merupakan salah seorang pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga sebelum kepemimpinan abon Aziz bin Muhammad Shaleh. Namun, banyak diantara masyarakat yang kurang mengenal sosok dan sejar hidup , padahal jasa dan pengabdiannya kepada umat sangatlah besar.

loading...
loading...

Teungku Abbas, orang tua dari Teungku Abi Hanafiah menurut satu riwayat merupakan keturunan Arab yang bersambung nasabnya dengan Sayyidina Abu Bakar. Namun karena kondisi masa penjajahan, nasab ini disembunyikan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini menyebabkan bukti yang valid mengenai mata rantai keturunan Teungku Abi tidak dapat ditemukan. Teungku Abbas pergi ke Aceh bersama sembilan orang dari Mekkah sehingga mereka diistilahkan dengan kelompok sembilan.

Teungku Abi menuntut ilmu dan belajar agama di Ie Leubeu pada Tgk. Chik di Pasi. Setelah beberapa lama belajar pada Tgk. Chik  di Pasi, Tgk. Abi melanjutkan pendidikannya untuk belajar ke Tanjongan pada Tgk. Idris. Tgk. Idris memiliki tiga orang anak yaitu Syihabuddin (*1), Abdul Hamid (*2) dan Juwairiah. Karena tertarik dengan Teungku Abi, Tgk. Idris akhirnya menikahkan putri beliau Juwairiah dengan Teuku Abi.

Dari pernikahannya dengan Juawairiah, Teugku Abi memiiki enam orang anak yaitu amanuddin, Badriah, Mahyeddin, Jalaluddin, Fatimah, dan Aisyah (*3).

*** Foot Note ***

  1. Tgk. Syihabuddin bin Idris merupakan pimpinan dayah Samalanga (1927-1935).
  2. Abdul Hamid bin Idris adalah orang tua dari Dr. Humam Hamid dan Ahmad Farhan Hamid. Dr. Humam Hamid pernah menjadi calon gubernur Aceh. Dan Farhan Hamid pernah menjabat sebagai wakil ketua MPR RI.
  3. Aisyah merupakan ibunda Tu Bulqaini Tanjongan, Sekjen HUDA sekarang.
loading...

 ***

loading...

B. Belajar ke Mekkah

Namun di awal-awal pernikahannya, Teungku Abi sempat merasa malu dengan ibu mertuanya Ummi Fatimah karena keliru dalam membaca kitab. Ummi Fatimah menegur Teungku Abi seraya membaca matan bait Alfiyah untuk menunjukkan bahwa bacaan Teungku Abi menyalahi kaidah ilmu Nahwu. Karena merasa malu dengan keterbatasan ilmunya, akhirnya Teungku Abi pergi ke Mekkah untuk semakin memperdalam ilmu nya. Di Mekkah Tungku Hanafiah sempat menimba ilmu dan mengambil pengijazahan thariqat pada Sayyid Abu Bakar Syatta, pengarang kitab I’anatuth Thalibin. Thariqat yang diperoleh dari Sayyid Abu Bakar Syatta inilah yang kemudian diijazahkan kepada Abu Usman Ali Kuta Krueng (Abu Kuta). Sedangkan thariqat yang diijazahkan kepada Abu Seulimum oleh Teungku Abi bersanad kepada mertuanya Teungku Idris.

Teungku Abi juga sosok yang menjadi rujukan dalam penetapan hukum. Ketika diadakan acara muzakarah, biasanya Teungku Abi hanya sibuk berzikir. Saat sudah ada keputusan, peserta muzakarah bermusyawarah dengan Teungku Abi untuk meminta pendapat Teungku Abi. Terkadang meraka harus kembali membahas sati persoalan hingga empat kali sehingga baru mendapat persetujuan Teungku Abi.

Teungku Abi sosok yang paling dihormati di wilayah utara dan timur Aceh sebagaimana dihormatinya Abu Krueng Kale di wilayah barat, Banda Aceh dan sekitarnya.

Baca Juga :  Mengenal Sang Ahli Ilmu Falak Alm. Tgk. M. Ali Irsyad (Abu Teupin Raya)

C. Memimpin Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga

Berdasarkan beberapa tulisan yang menceritakan sejarah kepemimpinan MUDI Mesra, pada umumnya menyebutkan Teungku Abi memimpin dayah MUDI setelah Tgk. Syihabuddin (Abang Ipar nya Teungku Abi) meninggal dunia. Namun berdasarkan riwayat yang lain dayah ini sebenarnya diserahkan langsung oleh Tgk. Syihabuddin untuk dikelola oleh Teungku Hanafiah bin abbas dimasahdupnya Tgk. syihabuddin.

Karena dayah MUDI ini merupakan dayah kerajaan yang sudah berdiri sejak masa Sultan Iskandar Muda, Abon Chik Samalanga bertanya kepada Tgk. Syihab : “Ek jeut man dayah nyoe ta yue duek bak Teungku Abi ?” (Apakah bisa Tgk. Abi dijadikan sebagai pimpinan dayah ini ?). Mendengar pertanyaan ini Tgk. Syihabuddin berkata “Meunyo han jeut pane mungken lon peu jeut keu parui lon” (Kalau memang tidak bisa bagaimana mungkin beliau menjadi sebagai adik ipar saya). Jawab Tgk. syihabuddin. Akhirnya kepemimpinan MUDI Mesra dipimpin oleh Teungku Kasim.

Di masa kepemimpinan Tgk. Abi, tidak banyak perubahan dari segi pembangunan asrama dari masa sebelumnya. Hanya saja jumlah pelajar sedikit bertambah yang dulunya 100 orang putra kini menjadi 150 orang, sedangkan jumlah santriwati kurang lebih berjumlah 50 orang, sama seperti masa sebelumnya saat masih dipimpin oleh Tgk. Syihabuddin bin Idris.

Meskipun jumlah muridnya  tidak terlalu ramai, namun banyak dari murid Teungku Abi menjadi Ulama yang sebagiannya juga memperdalam ilmu di tempat yang lain. Diantara murid-murid Tgk. Abi adalah Abon Aziz dan juga ayah beliau Tgk. Muhamad Shaleh, Abu Seulimum, Abon Muhammad Amin Arbi Tanjongan, Tgk. Muhammad Jamil dan juga menantunya Tgk. H. Abdul Muthalleb atau yang biasa dipanggil Abu Ie Lueng, Abu Kuta Krueng dan beberapa nama yang kemudian hari menjadi ulama.

Disamping itu ada juga teungku-teungku yang belajar pada teungki Abi diwaktu-waktu tertentu. Abu Hamid Arongan misalnya diamanahkan oleh gurunya Abuya Jailani agar selalu mengunjungi Teungku Abi untuk beristifadah (mengambil faidah) pada beliau. Dan ternyata Abu Arongan ketika pulang dari Kuta Fajar paling tidak dalam sebulan selalu berkunjung dan belajar pada Teungku Abi sesuai wasiat gurunya.

D. Guru Idolanya Abu Abdul Wahab Seulimum

Abu Wahab Seulimum adalah murid Tgk. Abi yang sangat mengidolakan gurunya. Hampir setiap pengajian beliau menyebut nama gurunya Tgk. Abi Hanafiah. Banyak kenang-kenangan yang beliau peroleh pada masa menuntut ilmu di dayah MUDI dan belajar pada Tgk. Abi. Ketika Abu Wahab Selimum marah, anak-anaknya terkadang mengingatkan Abu, “Abu, Teungku Abi han tom bungeh-bungeh” (Abu, Teungku Abi tidak pernah marah). Dengan seketika Abu Wahab terhentak saat mendengar disebut nama gurunya Teungku Abi. Begitulah kecintaan abu Wahab yang begitu mendalam kepada sosok gurunya Tgk. Abi.

Salah satu wasiat Teungku Abi kepada Abu Seulimum, “Gata ta woe u gampong seumeubeuet mantoeng, bek jak mita kaya” (Kamu ketika pulang kampung fokuskan diri untuk mengajar, jangan sibuk mencari kekayaan).

Baca Juga :  Riwayat Hidup Abu Tumin Blang Bladeh Dari Sejak Kecil Hingga Dewasa

Pada suatu ketika saat Abu Wahab sudah memiliki dua orang anak, beliau pergi membersihkan kebun, tiba-tiba tangan nya terkena parang (golok). Saat itu beliau langsung terbayang wajah Teungku Abi dan nasehat beliau agar jangan mencari kaya. Maka mulai saat itu, Abu Wahab sama sekali tidak lagi berfikir soal mencari rezeki, beliau fokus untuk seumeubeueet (mengajar) seperti diwasiatkan oleh Teungku Abi.

Disamping belajar ilmu agama, abu Seulimum juga sempat belajar ilmu bela diri pada Teungku Abi. Teungku Abi dikenal jago bela diri dan beliau memiliki thariqat yang diambil dari gurunya dari desa Meuko, Ulee Gle. Selain kepada Abu Wahab Seulimum, ilmu bela diri ini juga diajarkan kepada Tgk. Muhammad Jamil.

E. Tidak Setuju dengan Pemberontakan

Salah satu sikap politis yang ditunjukkan oleh Tgk. Abi adalah beliau tidak setuju dengan pemberontakan DI/TII, karna menurut beliau tidak boleh hukumnya memberontak kepada pemerintah yang sah. Ketika Indonesia baru merdeka, Abu Krueng Kale pernah berkunjung ke Mesjid Raya Samalanga dalam rangka mengadakan rapat bersama para Ulama guna mengambil sikap tentang penentuan nasib Aceh. Abu Krueng Kale, Tgk. Abi dan beberapa ulama lainnya sepakat agar Aceh mendirikan negara nya sendiri. Namun hal itu tidak disetujui oleh Abu Daud Beureueh. Pada saat itu Abu Krueng Kale dan ulama lainnya menawarkan solusi lain kalau Aceh dijadikan Negara Bagian dengan membayar pajak kepada pemerintah Indonesia, namun lagi-lagi Abu Daud Bereueh tidak setuju. Perbedaan sikap politik ini membuat suasana tegang antara pihak Abu Krueng Kale, Tgk. Abi dengan Abu Daud Beureueh. Namun akhirnya Aceh bergabung dengan Indonesia karena Abu Daud Beureueh tetap ngotot dengan keputusannya.

Ketika Abu Daud Beureueh menggerakkan pemberontakan DI/TII, Teuku Abi menolak untuk ikut terlibat. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Abu Krueng Kale. Dalam hal ini, Teungku Abi menilai pemberontakan kepada pemerintah yang sah tidak dibolehkan dalam agama. Mereka sebenarnya telah lebih dahulu mengusulkan agar Aceh berdiri sendiri, namun ketika keputusan yang diambil adalah bergabung dengan Indonesia, maka taat kepada Pemerintah sudah menjadi bagian dari kewajiaban.

F. Sosok yang Zuhud dan Sederhana

Teungku Abi dikenal sebagai sosok yang zuhud dan hidupnya sederhana. Beliau sering berkhulwah (mengasingkan diri) memfokuskan diri dalam beribadah kepada Allah Swt. Tgk. Abi juga sering berpuasa. Salah satu kebiasaan Teungku Abi, beliau selalu berbuka puasa di dayah dan mengajak santri menemaninya setelah Ummi Juwairiyah menyiapkan makanan buka puasa kepada Teungku Abi, makanan itu selalu dibawanya ke dayah agar suasana keakraban dengan santri lebih terasa.

Bila ada orang yang menyumbangkan kain sarung kepada Teungku Abi, beliau akan memakainya walau hanya satu kali. Setelah itu sarung-sarun itu dihadiahkan kepada orang lain. Teungku Abi juga memiliki gaji karena menjabat jabatan Qadhi. Jabatan qadhi ini wilayahnya sedikit lebih besar dari KUA karena mencakup wilayah Samalanga, Ulim dan Peudada. Setiap tanggal 5 awal bulan yang biasanya Tgk. Abi gajian, banyak masyarakat yang datang ke rumah Tgk. Abi karena mereka sudah tau Tgk. Abi akan membagi-bagikan gajinya kepada masyarakat.

Baca Juga :  Abu Tumin, Ulama Sepuh Aceh Murid Abuya Muda Wali Al-Khalidi

Teungku Abi terkadang juga enggan menerima harta waqaf. Bagi Teungku Abi menerima harta waqaf adalah amanah yang tanggung jawab nya sangat besar. Teungku Abi khawatir kalau anak cucunya tidak dapat mengelola tanah waqaf ini dengan baik seperti yang diinginkan oleh pihak pewaqaf. Karena itu, Teungku Abi lebih memilih sikap hati-hati (ihtiyath) degan tidak sembarang menerima harta waqaf.

G. Sosok yang Tawadhu’ dan Rendah Diri

Teungku Abi tidak terlalu berharap kemuliaan di sisi manusia. Tgk. Abi tidak ingin orang-orang menjadi repot karena harus memuliakan beliau. Bila orang-orang tau Teungku Abi ingin pergi ke pasar Samalanga, di desa Kandang orang-orang sudah menghentikan sepedanya untuk menunggu lewatnya Teungku Abi. Hal ini menunjukkan besarnya penghormatan masyarakat kepada ulama pada masa itu. Oleh karena itu, Teungku Abi sengaja mencari jalan-jalan tikus melalui lorong-lorong rumah agar orang-orang tidak menjadi terganggu dan sibuk menunggu kedatangannya.

Teungku Abi juga tidak merasa malu untuk bertanya kepada murid-muridnya. biasanya ketika ada persoalan tertentu yang tidak bisa dijawab, Tgk. Abi ikut mengajak murid-muridnya pergi bersama-sama untuk bertanya kepada Abu di Ulee Ceue yang yang akrab disapa Teungku ‘Arabi. Hal ini menunjukkan betapa tawadhu’nya Teungku Abi yang tidak merasa malu untuk belajar bersama-sama muridnya. Sikap tawadhu’ ini banyak juga ditunjukkan dalam hal-hal lainnya.

H. Sumur Teungku Abi

Salah satu hal yang membuat nama Teungku Abi selalu terdengar hingga sekarang adalah sumur yang dido’akan oleh Teungku Abi hingga sekarang menjadi sumber air minum bagi santri-santri yang belajar di dayah MUDI Mesra. Sumur ini dido’akan oleh Teungku Abi agar layak diminum oleh santri dan menyehatkan. Alhamdulillah, Santri dayah MUDI tidak perlu memasak air atau membeli air minum isi ulang karena air sumur yang dido’akan oleh Teungku Abi cukup untuk seluruh santri MUDI yang kini mencapai 7000 orang. Dulunya sumur ini dapat dilihat dengan jelas, namun setelah perluasan Mesjid Raya Samalanga pada awal 2010, sumur ini sedikit tertutup karena sudah masuk dalam bagian mesjid. Walau demikian, sumur ini tidak diganggu dan masih difungsikan hingga sekarang.

I. Meninggal Dunia

Teungku Hanafiah bin Abbas meninggal Dunia pada tahun 1958. Jasad beliau dikebumikan dibelakang Mesjid Raya Samalanga.

Setelah Teungku Abi meninggal, dayah ini sempat ditawarkan untuk dipimpin oleh anaknya Teungku Amanuddin, namun beliau menolaknya. Akhirnya jabatan pimpinan dayah ini diserahkan kepada Abon Abdul Aziz bin Muhammad Shaleh yang merupakan menantu beliau (*1).

*** Foot Note ***

  1. Abon Abdul Aziz bin Muhammad Shaleh menikah dengan Fatimah binti Hanafiah, anak ke-5 dari Tgk. Hanafiah bin Abbas.

***

TAMAT

Sumber : Tgk. Muhammad Iqbal Jalil, dkk (Ulama Bireuen Abad XX) CV. Manhaji, Medan 2017

Apa Komentar Anda ?