Ilustrasi Source : google.com

Pertanyaan : Bagaimana hukum Jual-Beli barang seludupan (Black Market, ) yang menghindari pajak ?

Barang / Black Market / Pasar Gelap adalah pasar barang Impor / Ekspor secara untuk menghindari biaya pajak suatu negara.

loading...
loading...

Dijawab oleh : Ust. Sholehuddin

Kalo memang barangnya termasuk yg dilarang secara dzatiahnya, itu dah maklum hukumnya..

Sekarang klo barang itu trmsuk yang mubah, memenuhi persyaratan sahnya jual-beli menurut syariat, tetapi tidak mendapat legalitas dari pemerintah karena menghindari dari pajak,
Dalam hal ini, mngkin ada 2 hal yang perlu kita perhatikan,

1.Status hukum jual beli barang selundupan(black market) secara syariat.

loading...

Dalam kajian hukum syariat, selama transaksi itu tidak melanggar aturan syariat, statusnya sah. Masalah admisnistrasi dan pajak, tidak mempengaruhi keabsahan transaksi. Karena hukum asal jual beli adalah halal. Allah befirman,

loading...

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual-beli …” (QS. Al-Baqarah: 275)

Ketika barang itu memiliki manfaat yang mubah, maka barang ini sah ditransaksikan dan hukum jual belinya mubah.

2.Pertimbangan sisi legalitas

Pada prinsipnya setiap kaum muslimin memiliki hak untuk menjual barang tanpa harus dibebani pajak. Karena itu, jika seorang muslim membawa barang yang ilegal, dalam arti tidak terkena pajak ketika masuk ke negaranya, maka ini sama sekali tidak mempengaruhi keabsahan transaksi. Dan tidak menunaikan apa yang tidak menjadi kewajibannya, diperbolehkan.

Baca Juga :  Hukum Menjual Pulsa Untuk Orang Pacaran dan Selingkuhan

Akan tetapi, apabila kondisi jual-beli selundupan (pasar gelap)itu membahayakan kemaslahatan banyak orang, seperti hasil penimbunan barang, atau menjadi celah bagi dirinya untuk ditindak oleh pemerintah, maka tidak selayaknya dilakukan seorang Muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berabda,

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ahmad 2865, Ibnu Majah 2431).

Meskipun hal ini tidak menyebabkan akad jual-beli di pasar gelap menjadi tidak sah, karena larangan membeli barang di pasar gelap terpisah dengan akad jual-beli.

Terdapat kaidah dalam Fiqh tentang status larangan perbuatan, apakah bisa menyebabkan batalnya perbuatan itu,
النهي يقتضي الفساد إذا كان النّهيُ لذاته، أو لوصف قائم به

Kaidah larangan bisa membatalkan perbuatan berlaku jika larangan itu terkait dengan perbuatan itu sendiri atau dengan salah satu kriteria yang melekat pada perbuatan itu.

Dalam jual-beli di pasar gelap, larangan tidak tertuju kepada perbuatan jual-beli. Akan tetapi tertuju kepada carannya yang tidak direstui pemerintah karena tidak dilaporkan untuk dijadikan objek pajak.
Jadi dari sisi mudharatnya yaitu bisa masuk hotel predeo(klo ketangkep) ya ga boleh..sama saja menjerumuskan diri kejurang kecelakaan..

Baca Juga :  Hukum Menjual Pulsa Untuk Orang Pacaran dan Selingkuhan

Wallahu a’lam.

Pertanyaan : Oleh Akhi Rozi

Assalamu’alaikum…
saya mau brtanya para ustadz dan ustadzah..apa hukumnya beli barang selundupan…contohnya semacam HP,TV dll…monggo di jawab…syukron katsiron..Asta’fikum alfan alfin isti’faafan…

JAWABAN : Akhik Mbah Jenggot II

BARANG SELUDUPAN BERBEDA DENGAN BARANG CURIAN. seluundupan hanya tidak membayar pajak negara.

Jual – Beli SAH (jika memenuhis syarat jual beli ) tp HARAM melanggar aturan yg ditetapkan pemerintah jika ada mashlahat yang selaras dengan syara’ (mu’tabar syar’an)
(keharaman tersebut menurut sebagian pendapat dloif dari madzhabSyafi’iyah dan Hanafiyah )

  1. Bughiyah al-Mustarsyidin, hlm. 911.
    بغية المسترشدين | صـ 91(مسألة : ك) : يجب امتثال أمر الإمام في كل ما له فيه ولايةكدفع زكاة المال الظاهر ، فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبةجاز الدفع إليه والاستقلال بصرفه في مصارفه ، وإن كان المأمور به مباحاً أو مكروهاًأو حراماً لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله (م ر) وتردد فيه في التحفة ، ثم مال إلىالوجوب في كل ما أمر به الإمام ولو محرماً لكن ظاهراً فقط ، وما عداه إن كان فيه مصلحةعامة وجب ظاهراً وباطناً وإلا فظاهراً فقط أيضاً ، والعبرة في المندوب والمباح بعقيدةالمأمور ، ومعنى قولهم ظاهراً أنه لا يأثم بعدم الامتثال ، ومعنى باطناً أنه يأثم اهـ.قلت : وقال ش ق : والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهراً وباطناً مما ليسبحرام أو مكروه ، فالواجب يتأكد ، والمندوب يجب ، وكذا المباح إن كان فيه مصلحة كتركشرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوي الهيئات ، وقد وقع أن السلطان أمرنائبه بأن ينادي بعدم شرب الناس له في الأسواق والقهاوي ، فخالفوه وشربوا فهم العصاة، ويحرم شربه الآن امتثالاً لأمره ، ولو أمر الإمام بشيء ثم رجع ولو قبل التلبس بهلم يسقط الوجوب اهـ.
    Wallaahu A’lamu Bis showaab.
Baca Juga :  Hukum Menjual Pulsa Untuk Orang Pacaran dan Selingkuhan

Akhi Ibnu Toha :
tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan HAROM atau TIDAK HAROM dll. tapi sebagai seorang Muslim khalifah di bumi tercinta ini, sepatutnya tidaklah memiliki harta-harta ilegal, selundupan dan segala macam atribut yg tidak menenangkan pikiran tsb. kita wajib menjaga harta milik kita dari perkara yg meresahkan. berhati-hati dari perkara subhat adalah lebih baik.

Sumber : Group WA TJI 2

Apa Komentar Anda ?